Follow by Email

Entri Populer

Fish

Rabu, 09 Februari 2011

Cinta Tidak Pernah Sendiri dan Takkan Mati

Cinta Tidak Pernah Sendiri dan Takkan Mati

Aku tidak tahu harus memikirkan apa malam ini. Tiba-tiba hatiku menuntunku berkisah tentang cinta yang abadi. Aku diingatkan akan kisah-kisah yang baru berlalu. CINTA. Aku membayangkan hari-hari hidup yang dihiasi cinta. Hari yang indah. Maka akupun ingin setiap tarikan dan hembusan nafasku diirigi cinta, bahkan saat tubuhku nanti biru aku ingin diiringi dengan cinta. Sekalipun tubuh itu tidak lagi merasakan sentuhan angin.

Pernahkah engkau sangat rindu? Rindu bukan untuk bertemu, melihat atau memandang, bukan rindu duduk bersama menghabiskan secangkir susu coklat dan makan daging anjing. Kerinduan itu diam dalam hatimu yang terdalam dan engkau tak kuasa mengusirnya. Kerinduan itu membuatmu sedih dan pedih. Bila engkau beranjak dari tempatmu berhening dan engkau bisa saja menemukannya, tetapi bukan saat yang tepat bagimu untuk melakukannya, lagi pula engkau tidak berniat melakukannya. Engkau tidak ingin bertemu.
Menit-menit berlalu, engkau menanti yang engkau rindukan tapi tak jua ada. Kerinduan yang sederhana namun tak terabaikan. Engkau hanya rindu mendengar suara singgah di telingamu dan menyapa hatimu. Suara yang darinya engkau pernah merasakan cinta dan bagimu suara itu adalah tanda-bukti cinta. Kali ini, saat kerinduan memenuhi hatimu, cinta itu tidak datang, dia berkelana entah kemana. Kalau engkau pernah merasakannya maka engkau pasti mengerti akan arti “CINTA YANG TAK PERNAH SENDIRI DAN TAKKAN MATI”.
Aku telah mengalami ini dan aku ditemui oleh Sang Cinta. Ia menyapa hatiku yang rindu dan aku berkata “cinta selamat datang”. Kini aku tahu cinta itu sejati. Ini semua kumengerti dalam pertemuan dengan Dia di keheningan hatiku, di sebuah ruang kecil 7C, RPF-Nagahuta tempatku berhening dan dalam bimbingan P. Michael Manurung OFMCap yang dipilih oleh Tuhan menjadi pembimbing retret pribadiku. Bersama beliau aku bertualang menemukan cinta.....
Retret hari ketiga, seperti biasa aku merenungkan 4 teks KS. Dua teks terdahulu, dalam kontemplasi aku mendapatkan diriku berjalan hanya sendirian. Hatiku sedih dan berulangkali bertanya, “Bapa mengapa aku hanya sendirian saja di jalan kecil ini?” “Berjalanlah”, jawabNya. Aku berjalan. Aku bertanya lagi, “Bapa aku ingin punya teman seperjalanan, mengapa aku sendirian?” Aku tidak lagi mendengar suaraNya. Kuangkat kepalaku, jauh di depanku ada sebuah puncak dan kulihat Dia di sana. Dari tatapanNya hatiku menangkap sebuah pesan. Dia menyuruhku datang kepadaNya. Akupun datang meski merasa sendirian karena Dia yang menyuruhku. Ada harapan dalam hati kecilku. Tapi kerinduan akan kehadiran teman-teman seperjalanan masih memenuhi hatiku.
Pukul 15.30 WIB, jadwal kontemplasiku yang ketiga. Pertobatan Saulus. Bapa beri aku hati yang hening, tenang dan bening. Beri aku kesempatan berjalan bersama Saulus, bertemu Yudas, Ananias dan bertemu dengan Engkau serta mendengar pesanMu. Aku duduk tenang, mendengarkan suara-suara. “Bapa dimana suara itu, tanyaku dalam hati. Aku tidak mengerti, mengapa aku tiba-tiba sangat rindu mendengar suara burung yang sering melintas dekat kamarku.
Kutelusuri perasaanku, mengapa aku rindu. Suara itu tanda kehadiran seorang yang mencintaiku dan kucintai. Dia telah berlalu dari dunia ini sejak aku berusia lima tahun. Bapak memperkenalkan suara itu, untuk menghibur kepedihan dan kehilanganku dengan meyakinkan aku bahwa dia yang telah meninggalkan kami tetap mencintaiku tetap ada menjagaku. Ia menyapaku lewat kicau burung. Bapak sering menterjemahkan kicauan burung dengan kalimat-kalimat indah yang menghibur dan menyenangkan hatiku. Hingga akhirnya aku sendiri fasih menterjemahkan suara-suara burung itu “Sore ini suara itu meninggalkan hatiku, cinta itu pergi dari hatiku,” keluhku dalam hati.
Dua hari pertama retretku, suara itu kudengar riuh. Aku tidak peduli, aku tidak merasa atau berpikir sesuatupun tentang suara itu. Tapi sore ini, aku sangat merindukannya. Aku diam menanti suara itu, mungkin sebentar lagi terdengar. Tapi tak jua kunjung datang. “Cinta kemana engkau pergi, mengapa engkau meninggalkan hatiku?”, tanyaku sedih menahan rindu. Kubaca teks Kitab Suci yang terletak di bantal bulat. Kerinduan itu semakin kuat memenuhi hatiku. Bapa, satu suara tanda cinta telah meninggalkan hatiku saat aku sangat merindukannya.
Kupakukan tatapanku pada nyala lilin kecil di sudut doaku dan mencoba berkonsentrasi merenungkan teks yang telah kubaca berulangkali. Aku mencoba mengabaikan kerinduanku tapi tidak bisa. Bahkan kini aku merindukan suara dari seorang yang juga dua hari lalu kudengar dari kamarku saat aku memulai meditasiku. Suara itu bukan memanggilku. Suara yang sebenarnya tidak asing bagiku. Hampir 40 hari ini aku tinggal bersama dia, berbicara, bercanda, olahraga, makan dan rekreasi. Bahkan baru tadi pagi aku bertemu dan berbicara dengan dia di ruang 13 A, berbagi pengalaman doaku. Karena beliaulah yang dipilih Tuhan membimbingku dalam retret menutup khursus Persiapan Kaul Kekal kali ini. Tapi entah mengapa sore ini aku rindu mendengar suaranya melintas lewat jendela kamarku. Aku tidak berharap dia memanggilku, aku tidak rindu bertemu atau bertegur sapa. Aku hanya ingin mendengar suaranya. Menit-menit berlalu suara itu tak kunjung terdengar olehku. Tiba-tiba seekor nyamuk menari-nari di depanku. Ngiiing... aku mendengarkannya. Suaranya tidak mampu menggantikan suara yang kurindukan sore ini. Paaaak aku bertepuk keras, nyamuk kecil mati. Korban mutilasi pikirku.
Ade ada apa denganmu? Kutanya diriku. Mengapa suara itu tidak menyapa hatiku? Ade, dua suara engkau rindukan sore ini dan dua suara itu telah meninggalkan hatimu. Tuhan mengapa semua ini terjadi? Dalam dunia nyatapun aku merasa telah ditinggalkan, dalam permenungan dan kontemplasipun aku berjalan sendirian dan ketika aku bertanya tak sepatah katapun kudengar dariMu. Aku sendirian dalam kerinduan yang tidak kumengerti.
Kucoba sekali lagi membaca teks Kitab Suci. Berlahan kutarik nafas panjang dan dalam. E...hemmmm hahh kuhembuskan cepat-cepat. Kuyakinkan hatiku bahwa suara itu tidak meninggalkanku. Suara itu sedang berkelana. Dia akan pulang menemui dan menyapa hatiku yang rindu pada saat dan waktu yang tepat. Kuulangi kata bijak yang tercatat di hatiku “Manusia hidup, menderita dan mati dan yang paling lama bertahan adalah cinta.” Aku yakin itu, bahkan cinta tidak hanya bertahan lama tapi selama-lamanya. Akhirnya aku masuk dalam kontemplasi dan sampai pada situasi indah. Ananias menatapku dan berkata “Tuhan mencintaimu”. Aku menjawab, “Aku percaya Tuhan mencintaiku”.
Di penghujung kontemplasiku aku bersyukur dan ada sesuatu yang lebih menakjubkan lagi. Suara burung yang kurindukan riuh di samping kamarku, lebih indah dari hari-hari sebelumnya. Di penghujung permenungan itu juga, dia sipemilik suara yang kurindukan hadir dihadapanku dengan tersenyum. Cinta selamat datang. Aku bahagia. Cinta telah pulang menyapa dan memenuhi kerinduanku. Inilah cinta sejati. Cinta yang tidak hilang. Berlahan kubuka mataku. Aku percaya Dia yang menanamkan kerinduan agar aku mengerti akan arti “cinta”. Saat aku rindu dan sangat rindu, dia hadir pada saat dan waktu yang tepat. Ya itulah cinta sejati-cinta yang tidak pernah sendiri dan takkan mati. Aku yakin, bahwa aku tidak pernah sendiri menapaki jalan hidup ini. Ada Dia yang mencintaiku, hadir dalam setiap peristiwa hidupku, dalam lembutnya alunan nada, rinai hujan, melalui setiap orang. Cinta ada dan hadir dalam segala sesuatu.
Permenungan, refleksi dan keyakinanku ini diteguhkan oleh P. Michael yang setia membimbingku. Dengan lembut beliau berkata, “Hidup tidak pernah terlepas dari cinta. Tidak ada seorangpun yang mampu menjalin relasi yang indah dengan Tuhan dan sesama, jika ia tidak punya cinta. Seorang selibater tidak mungkin mampu mempersembahkan dirinya secara utuh kepada Tuhan jika ia tidak punya cinta”. Aku meyakini dan mengamini pendapat beliau. Bagaimana aku mencintai Tuhan bila aku tidak mampu mencintai sesamaku? Bagaimana aku mengatakan aku cinta kepada Tuhan, kalau aku tidak pernah merasakan rindu yang mendalam kepadaNya? Bagaimana aku tahu dan yakin Tuhan yang kurindukan mencintai aku bila kehadiranNya tidak membahagiakan hatiku dan tidak mengobati rasa rinduku? Bila aku tidak pernah mampu merasakan kehadiranNya pada saat dan waktu yang tepat?
“Jam berapa aku melintas dekat kamarmu sore ini De?,” tanya P. Michael mengakhiri sharing rohani kami. Aku tersenyum dan berkata, “tidak usah Pastor”. Hatiku semakin yakin Tuhanlah yang memilih beliau membimbingku dan Tuhan jugalah telah memuhi hatinya dengan cinta yang berbunga dan cinta itu dapat kurasakan sekalipun beliau tidak melintas dekat kamarku sore ini. Aku tetap yakin ada cinta untukku. Dia menemani hari-hari permenunganku dengan caranya sendiri sebagai bukti “cinta tidak pernah sendiri”. Hatiku dapat merasakannya. Cinta mengajariku berelasi, menumbuhkan dan memupuk kebahagiaan dalam hatiku, dalam setiap gerak langkahku dan dalam setiap lorong hidupku. Cinta telah mengajari aku mencintai Tuhan dengan cinta tak terbagi.
Pada hari terakhir retret, keyakinanku akan kekuatan cinta sudah teruji dan aku pun akan menebar cinta. Dalam bimbingan terakhir aku mesharingkan keindahan perjalanan retretku dari hari pertama sampai hari terakhir. Aku mengalami suatu gerak yang indah. Satu pertanyaan dari P. Michael, “Ade, dari semua permenungan, dalam manakah Ade menemukan dan mengalami rahmat Tuhan yang sangat besar?” “Ketika aku sangat rindu mendengar dua suara dan suara itu hadir pada saat dan waktu yang tepat. Aku menyebutnya pengalaman cinta. Cinta yang tetap bertahan, karena itu saat ini aku siap untuk segala sesuatu kemungkinan yang bakal terjadi atas diriku,” jawabku sambil tersenyum. Beliau tersenyum dan mengangguk. Menguatkan keyakinan akan sejatinya cinta, aku membacakan puisi “Kutemukan cinta”, setelah itu aku dan P. Michael menyanyikan lagu “Here I am Lord” dengan suara serak-serak becek.
Mengakhiri pertemuan yang terakhir kami, P. Michael menyodorkan sebuah kartu ucapan selamat dengan dua kalimat tertulis indah dan sangat menyentuh hatiku. “Karena Engkau Tuhan menyuruhku, maka aku datang”. “Cinta tidak pernah sendiri dan tidakkan mati”. Aku sangat bahagia dan sekarang cinta itu terbukti. Kalimat pertama adalah kata yang kuucapkan saat aku merasa sendirian, lelah dan Tuhan menatapku lembut. Kalimat kedua adalah keyakinanku setelah hatiku dikunjungi oleh dua suara itu. Dan saat itulah aku merasakan rahmat Allah. Dan semua ini dibaca oleh pembimbingku. Aku yakin ini semua karena cinta yang telah ditumbuhkan oleh Tuhan. Cinta itu mengerti. Kerinduan adalah bukti cinta. Tuhan senantiasa mencintaiku bahkan ketika hatiku sunyi merasa ditinggalkan dan tidak mampu merasakan kehadiran cintaNya.
Paulo Coelho dalam bukunya “By The River Piedra I Sat Down And Wept” mengatakan:
“Cinta telah ada sebelumnya dan akan berlangsung selama-lamanya. Cinta tidak berubah. Semakin kita mencintai, semakin kita dekat dengan pengalaman spiritual. Mereka yang benar-benar dicerahkan dan jiwanya diterangi oleh cinta sanggup mengatasi setiap rintangan dan prasangka zamannya. Mereka dapat bernyanyi, tertawa dan berdoa dengan lantang; mereka mengalami apa yang oleh St. Paulus disebut “kegilaan yang kudus”. Mereka bahagia karena orang-orang yang mencintai akan menaklukkan dunia dan tidak takut kehilangan. Cinta sejati adalah penyerahan diri seutuhnya”.
Aku yakin cinta Tuhan tidak akan berlalu. Masih banyak kisah cintaku, hari inipun kisah cinta itu ada antara aku dan Dia, aku dengan kamu. Sekalipun aku harus menangis di tepi sungai Piedra karenanya. Sungai yang membekukan setiap tetas air mataku menjadi dasar sungai. Aku tetap yakin cinta abadi. Keyakinan akan kesetiaan CINTA memberi aku keberanian untuk mengikrarkan kaul kekal pada tgl 29 September 2009.
ADE FSE

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Amazon MP3 Clips